5 Contoh Hipotesis | Pengertian, Jenis, Langkah [Lengkap]

Contoh Hipotesis – Dalam kesempatan yang berbahagia ini, kita akan bersama mengulas apa itu Hipotesis, lengkap beserta penjelasan detail dan contoh-contohnya.

Sebagaimana kita tahu, hipotesis adalah sesuatu yang penting dalam dunia akademik dan penelitian ilmiah akademik tertentu.

Hipotesis seringkali bisa kita jumpai di penelitian skripsi, penelitian tesis, sampai penelitian metode ilmiah sosial lainnya yang biasa menggunakan itu. Boleh dibilang hipotesis adalah jawaban sementara yang dibutuhkan peneliti untuk membuktikan jawabannya nanti.

Hipotesis disiapkan sebagai asumsi atau perkiraan yang terukur, tidak sekadar asumsi saja. Diulas pada awal bagian sebelum memasuki babak panjang penelitian. Menjadi sesuatu yang penting karena hipotesis dijadikan gambaran penulis sebagai kerangka proses penelitian dan menunjukkan apa perkiraan yang dihasilkan nanti.

Hipotesis kemudian menjadi garis besar pembuktian apakah penelitan dari dua subjek yang diteliti memiliki hubungan atau tidak, bagaimana peningkatan dan penurunannya, dan lain sebagainya.

Untuk lebih lengkapnya, yuk, simak tulisan ini dari awal sampai akhir!


Contoh Hipotesis | Kaitan Hipotesis dan Penelitian


Bagi mahasiswa yang sudah memasuki semester akhir, maka inilah saatnya untuk mulai memikirkan tema penelitian yang akan digunakan sebagai topik penelitian skripsi ataupun tesis sebagai syarat utama kelulusan.

Setelah menentukan topik penelitian, langkah selanjutnya adalah menyusun mencari tau materi-materi yang berhubungan dengan topik penelitian. Pengumpulan materi dapat dilakukan dengan menyusun landasan teori dari sumber-sumber yang terpercaya.

Dari landasan teori yang diperoleh, maka seorang peneliti dapat memprediksi jawaban sementara mengenai permasalahan yang diangkat pada penelitiannya. Hal ini akan mengerucut menjadi sebuah rumusan hipotesis. Dalam menyusun landasan teori untuk menggali hipotesis, seorang peneliti perlu untuk:

  • Memiliki banyak informasi mengenai masalah yang ingin dipecahkan dengan cara banyak membaca literatur yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan.
  • Mampu untuk memeriksa keterangan mengenai hal-hal yang berhubungan satu sama lain mengenai fenomena yang sedang diteliti.
  • Memiliki kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya sesuai dengan kerangka teori dan bidang yang bersangkutan.

Dari hasil penyusunan landasan teori tersebut, seorang peneliti dapat memperoleh gambaran mengenai variabel apa yang ingin di teliti dan faktor apa saja yang akan berpengaruh terhadap variabel penelitiannya.

Dari penyusunan landasan teori tersebut, seorang peneliti akan mengetahui jawaban sementara dari topik penelitiannya. Jawaban sementara ini disebut dengan hipotesis. Hipotesis dibuat berdasarkan kajian suatu teori yang mendalam.

Tujuan Menyusun Landasan Teori

Suatu teori merupakan himpunan konsep, definisi, dan proposisi yang berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Keterkaitan ini disusun secara sistematis yang bertujuan untuk mengemukakan dan menjelaskan serta memprediksi hal-hal (fakta-fakta) yang akan terjadi.

Secara umum, tujuan menyusun landasan teori dalam perumusan hipotesis memiliki tiga fungsi yaitu :

1. Untuk Memperjelas

Kajian teori memperjelas dan mempertajam ruang lingkup variabel yang akan diteliti.

2. Untuk Memprediksi

Fungsi kajian teori untuk memprediksi adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian karena pada dasarnya hipotesis merupakan pernyataan yang masih bersifat prediktif.

3. Untuk Mengendalikan

Fungsi kajian teori untuk mengendalikan adalah digunakan untuk membahas hasil penelitian dan selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.

Adapun sumber teori dalam melakukan penyusunan landasan teori dapat berasal dari :

a. Kebudayaan dimana ilmu tersebut dibentuk
b. Ilmu itu sendiri yang menghasilkan teori, dan teori memberikan arah penelitian
c. Analogi
d. Reaksi individu dan pengalaman


Contoh Hipotesis | Pengertian Hipotesis


Mengapa hipotesis penelitian penting?

Hipotesis merupakan jawaban sementara seorang peneliti mengenai permasalahan yang diangkat pada topik penelitiannya. Perumusan hipotesis sendiri harus dilakukan berdasarkan kajian teori dari topik yang diangkat.

Seorang peneliti harus banyak-banyak membaca kajian teori dari sumber yang terpercaya sebelum membuat hipotesis penelitian nya. Berikut ini beberapa pengertian hipotesis menurut para ahli:

Aritonang, dkk (2005)

Hipotesis dapat didefenisikan sebagai asumsi atau dugaan atau pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya tentang karakteristik populasi.

Arikunto (2002)

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah. Hipotesis umumnya dirumuskan untuk menggambarkan hubungan antara dua variabel, yaitu variabel penyebab dan variabel akibat.

Nazir (2003)

Menurut Nazir, definisi hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang mana kebenarannya harus diuji secara empiris. Dalam hipotesis terdapat hubungan apa yang kita cari atau yang ingin kita pelajari.

Dari beberapa pernyataan tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Hipotesis merupakan pernyataan hubungan antara variabel dengan variabel lain yang bersifat sementara atau bersifat dugaan (masih lemah) dan perlu dibuktikan kebenarannya melalui suatu penelitian ilmiah.

Definisi Hipotesis Secara Umum

Hipotesis atau anggapan dasar adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

Dugaan jawaban tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara, yang akan diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian.

Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang kan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut.

Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen. Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori.

Hipotesis berasal dari bahasa Yunani: hypo = di bawah;thesis = pendirian, pendapat yang ditegakkan, kepastian. Artinya, hipotesis merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan terarah.

Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesis ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya. Ketika berfikir untuk sehari-hari, orang sering menyebut hipotesis sebagai sebuah anggapan, perkiraan, dugaan, dan sebagainya.

Hipotesis juga berarti sebuah pernyataan atau proposisi yang mengatakan bahwa diantara sejumlah fakta ada hubungan tertentu. Proposisi inilah yang akan membentuk proses terbentuknya sebuah hipotesis di dalam penelitian, salah satu diantaranya yaitu penelitian sosial.

Proses pembentukan hipotesis merupakan sebuah proses penalaran, yang melalui tahap-tahap tertentu. Hal demikian juga terjadi dalam pembuatan hipotesis ilmiah, yang dilakukan dengan sadar, teliti, dan terarah. Sehingga, dapat dikatakan bahwa sebuah Hipotesis merupakan satu tipe proposisi yang langsung dapat diuji.

Hipotesis memiliki hubungan erat dengan penelitian karena hipotesis menjadi tolak ukur konfirmasi dari penelitian yang terbukti atau tidak.


Contoh Hipotesis | Ciri Umum Hipotesis


Untuk dapat memformulasikan hipotesis yang baik dan benar, sedikitnya harus memiliki beberapa ciri-ciri pokok, yakni:

1. Turunan dari Sebuah Teori

Hipotesis diturunkan dari suatu teori yang disusun untuk menjelaskan masalah dan dinyatakan dalam proposisi-proposisi. Oleh sebab itu, hipotesis merupakan jawaban atau dugaan sementara atas masalah yang dirumuskan atau searah dengan tujuan penelitian.

2. Memiliki Variabel Independen dan Dependen

Hipotesis harus dinyatakan secara jelas, dalam istilah yang benar dan secara operasional. Aturan untuk, menguji satu hipotesis secara empiris adalah harus mendefinisikan secara operasional semua variabel dalam hipotesis dan diketahui secara pasti variabel independen dan variabel dependen.

3. Dapat Diukur Secara Empiris

Hipotesis menyatakan variasi nilai sehingga dapat diukur secara empiris dan memberikan gambaran mengenai fenomena diteliti. Untuk hipotesis deskriptif berarti hipotesis secara jelas menyatakan kondisi, ukuran, atau distribusi suatu variabel atau fenomenanya yang dinyatakan dalam nilai-nilai yang mempunyai makna.

4. Hipotesis Harus Bebas Nilai

Artinya nilai-nilai yang dimiliki peneliti dan preferensi subjektivitas tidak memiliki tempat di dalam pendekatan ilmiah seperti halnya dalam hipotesis.

5. Hipotesis Harus Dapat Diuji

Untuk itu, instrumen harus ada (atau dapat dikembangkan) yang akan menggambarkan ukuran yang valid dari variabel yang diliputi.

Kemudian, hipotesis dapat diuji dengan metode yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengujinya sebab peneliti dapat merumuskan hipotesis yang bersih, bebas nilai, dan spesifik, serta menemukan bahwa tidak ada metode penelitian untuk mengujinya.

Oleh sebab itu, evaluasi hipotesis bergantung pada eksistensi metode-metode untuk mengujinya, baik metode pengamatan, pengumpulan data, analisis data, maupun generalisasi.


Tahap Pembuatan/ Pembentukan Hipotesis


Dalam merumuskan hipotesis biasanya dimulai dengan pembentukan kerangka analisis. Kerangka analisis ini dinyatakan dalam bentuk konseptual dan model empiris.

Selanjutnya, hipotesis tersebut diuji dengan menggunakan data empiris. Adapun berikut ini beberapa cara dalam merumuskan hipotesis, yaitu:

a. Hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan
b. Hipotesis dirumuskan dengan jelas dan padat serta spesifik
c. Hipotesis harus bisa diuji secara empiris (didukung dengan adanya data hasil penelitian)
d. Hipotesis menyatakan hubungan dua variabel atau lebih
e. Hipotesis memiliki suatu kerangka teori tertentu.

Tahap-tahap pembentukan hipotesis pada umumnya sebagai berikut:

  1. Penentuan masalah

Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah diketahui.

Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah mendapat bentuk perumusan masalah.

  1. Hipotesis Pendahuluan

Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah.Tanpa hipotesis preliminer, pengamatan tidak akan terarah.

Fakta yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak relevan dengan masalah yang dihadapi.

Karena tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.

  1. Pengumpulan Fakta

Dalam penalaran ilmiah, di antara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis pendahuluan yang perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.

  1. Formulasi Hipotesis

Pembentukan hipotesis dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesis diciptakan saat terdapat hubungan tertentu di antara sejumlah fakta.

Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesis, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.

  1. Pengujian Hipotesis

Artinya, mencocokkan hipotesis dengan keadaan yang dapat diamati. Dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi (pembenaran). Apabila hipotesis terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Falsifikasi (penyalahan) terjadi jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesis tidak sesuai dengan hipotesis.

Bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesis tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi (corroboration). Hipotesis yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.

  1. Aplikasi/ Penerapan

Apabila hipotesis itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus dapat diverifikasikan/ koroborasikan dengan fakta.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun hipotesis

  1. Saat menyusun hipotesis, penyusunan kalimat dibuat dengan kalimat pernyataan atau deklaratif. Kalimat ini bersifat positif dan tidak normatif. Yang perlu dihindari dalam menyusun hipotesis adalah istilah-istilah seperti sebaiknya dan seharusnya. Istilah tersebut dikarenakan masih bersifat ambigu atau tidak jelas.
  2. Variabel yang dinyatakan dalam hipotesis merupakan variabel yang operasional yaitu dapat diukur dan diamati.
  3. Hipotesis menunjukkan hubungan tertentu diantara variabel-variabel.

Contoh Hipotesis | Jenis-jenis Hipotesis


1. Hipotesis Deskriptif

Yaitu hipotesis yang proposisi yang menyatakan keberadaan, besar, bentuk, atau distribusi suatu variabel. Contoh:

“ Tingkat pengangguran di kota Z sekarang adalah lebih dari 5 persen dari angkatan kerja.”
“ Tinggi badan rata-rata mahasiswa Perguruan Tinggi Y adalah 163 cm”
“ Delapan puluh persen pemegang saham perusahaan A menyetujui kenaikan pembayaran deviden perusahaan”

2. Hipotesis Hubungan

Hipotesis hubungan adalah pernyataan yang menggambarkan suatu hubungan antara dua variabel atau lebih, berkaitan dengan suatu kasus tertentu. Terdapat beberapa jenis hipotesis hubungan, yaitu :

a. Hubungan yang bersifat sejajar dan tidak timbal balik

Jenis hipotesis ini akan lebih jelas dengan contoh berikut ini:

Kemampuan matematika dengan kemampuan IPA siswa SMU XYZ. Jika nilai matematika siswa tinggi, maka biasanya nilai IPA siswa juga tinggi, dan begitu pula sebaliknya.

Nilai matematika memiliki hubungan sejajar dengan nilai IPA, tetapi bukan hubungan sebab akibat. Kedua variabel ini memiliki hubungan yang mungkin disebabkan oleh faktor lain seperti kebiasaan mereka untuk berfikir logis sehingga mengakibatkan hubungan antar keduanya.

b. Hubungan yang sifatnya sejajar dan timbal balik

Contoh dari hipotesis jenis ini adalah :

Hubungan antara biaya pengeluaran iklan dengan jumlah penjualan yang diraih. Suatu perusahaan yang memutuskan untuk mengeluarkan biaya iklan dalam jumlah yang besar, maka akan memberikan hasil produknya lebih dikenali oleh konsumen sehingga dapat meningkatkan penjualan produknya.

3. Hipotesis Nul atau Nihil (Ho)

Hipotesis ini diformulasikan untuk ditolak sesudah pengujian. Dalam hipotesis nul selalu ada implikasi “tidak ada beda”, “tidak ada hubungan”, dan “ tidak ada pengaruh”.

Hipotesis nul biasanya diuji dengan menggunakan statistik. Apabila hipotesis nul ditolak, maka kita dapat menerima hipotesis pasangannya, yang disebut dengan hipotesis alternatif (hipotesis kerja).


Fungsi dan Kegunaan Hipotesis


Hipotesis sangat penting dalam suatu penelitian. Tanpa adanya hipotesis, maka tidak akan ada perkembangan dalam wawasan atau pengertian ilmiah dalam mengumpulkan fakta empiris. Tanpa adanya hipotesis, maka akan sulit untuk mencari mana fakta-fakta yang relevan dan mana yang tidak relevan.

Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu:

  1. Untuk menguji teori,
  2. Mendorong munculnya teori,
  3. Menerangkan fenomena sosial,
  4. Sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian,
  5. Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.

Secara garis besar, dalam penelitian hipotesis berguna untuk :

  1. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
  2. Membuat peneliti menjadi lebih siaga akan kondisi dan hubungan antar fakta yang kadang bisa hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
  3. Sebagai panduan peneliti dalam melakukan pengujian dan penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.

Sebagai seorang peneliti, rumusan hipotesis yang dibuat tidak harus selalu diterima kebenarannya. Jika pada kesimpulan penelitian hipotesis ditolak karena tidak sesuai dengan data, maka keadaan ini bukan berarti peneliti salah.

Sebaliknya, peneliti harus mampu menjelaskan mengapa hipotesis penelitiannya ditolak. Justru, penolakan hipotesis memungkinkan adanya penemuan baru yang positif, dimana membuka jalan atas ketidaktahuan sehingga akan tercipta penelitian-penelitian yang lain.


Berbagai Contoh Hipotesis


Contoh Hipotesis dalam kasus penelitian hubungan tingkat keaktifan mahasiswa di luar kelas dan IPK

Kita ambil contoh penelitian di Indonesia tentang ”Tingkat keaktifan mahasiswa di luar kelas dan indeks prestasi mahasiswa (IPK)”. Riset seperti ini tentu terdengar luas cakupannya, tapi lumrah dilakukan.

Kita akan melihat apakah mahasiswa yang aktif di luar kelas, misalnya menjadi pengurus organisasi di jurusan, ikut unit kegiatan mahasiswa, atau ikut kepanitiaan kampus memiliki IPK yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak aktif atau cuma belajar di kelas saja.

Seperti apa contoh hipotesis yang bisa dirumuskan? Mudah saja. Sebagai peneliti, kita bisa merumuskan hipotesis sebagai berikut: ”Mahasiswa yang aktif berorganisasi di kampusnya memiliki IPK lebih tinggi ketimbang mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi”.

Contoh Hipotesis yang berkebalikan dari hipotesis di atas

Perlu digarisbawahi di sini bahwa semua hipotesis yang dirumuskan oleh peneliti disebut dengan hipotesis kerja (Hk). Hipotesis di atas adalah hipotesis kerja. Untuk dapat diuji secara statistik, diperlukan hipotesis pembanding, disebut juga H0 (hipotesis nol).

Apa itu hipotesis pembanding? Hipotesis pembanding adalah hipotesis yang diadakan secara semena-mena untuk membandingkan hipotesis kerja. Hipotesis pembanding ini sebenarnya tidak ada, namun dalam proses penelitian sosial diperlukan karena hipotesis pembanding ini lah yang nantinya diuji.

H0 selalu merupakan formulasi terbalik dari Hk. Melihat kembali Hk yang sudah dipaparkan di atas, maka H0 yang bisa dirumuskan adalah ”tidak ada perbedaan IPK antara mahasiswa yang aktif berorganisasi dengan mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi”.

Setelah H0 dirumuskan, maka dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis ini adalah uji hipotesis nol. Pengujan hipotesis merupakan bagian dari proses analisis data penelitian. Jika hasil analisis menunjukkan H0 ditolak, maka Hk diterima.

Contoh Hipotesis yang lebih dari satu

H1: Terdapat hubungan yang signifikan antara mahasiswa yang aktif berorganisasi dengan minat menjadi pengurus organisasi tersebut.

H2: Terdapat hubungan yang signifikan antara mahasiswa yang aktif berorganisasi dengan kepemilikan target IPK minimal yang hendak dicapai.

H3: Terdapat hubungan yang signifikan antara mahasiswa yang aktif berorganisasi dengan pekerjaan impian yang ingin diperoleh setelah lulus kuliah.

H4: Terdapat hubungan yang signifikan antara mahasiswa yang aktif berorganisasi dengan target empat tahun kuliah selesai.

Kita bisa menyusun sebanyak mungkin hipotesis yang menjadi asumsi dasar untuk diuji. Jumlah hipotesis tidak terbatas, tetapi harus sesuai dengan rumusan masalah yang hendak kita jawab dalam penelitian kita.

Contoh Hipotesis Perbandingan antara dua objek

“Prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran NHT lebih baik daripada yang diajar dengan model pembelajaran STAD pada kelas VII SMP Negeri 13 Madiun”

Contoh hipotesis dalam beberapa bagian ringkas

1. Pernyataan “Jika-Maka”
Contoh:
ü Jika pegawai mengalami tekanan dalam bekerja yang lebih rendah, maka mereka akan memperoleh kepuasan kerja yang lebih tinggi.

2. Hipotesis Non dan Alternatif
Contoh:
ü H0 = Tidak ada pengaruh signifikan kenaikan gaji terhadap kinerja pegawai
ü Ha = Ada pengaruh signifikan kenaikan gaji terhadap kinerja pegawai

3. Hipotesa Directional dan Nondirectional
Contoh:
ü Ada hubungan langsung variabel gaya kepemimpinan dengan ketidakpastian lingkungan bisnis.


Sekian dulu artikel tentang apa itu hipotesis, beserta penjelasan, contoh, dan keterangannya lengkap. Yuk, siapkan hipotesis terbaikmu. Semoga bermanfaat!

Keyword: Contoh Hipotesis

Leave a Reply