Doa Arwah Untuk Orang Yang Sudah Meninggal Dunia

Doa Arwah adalah doa yang kita tujukan untuk ruh orang yang meninggal. Arwah atau yang dalam bahasa Arabnya kita kenal dengan kata ‘ruuh’ merupakan unsur non-benda yang ada dalam jasad yang Allah ciptakan sebagai penyebab adanya kehidupan. Ruuh juga terdapat dalam setiap jasad manusia.

Sesuai dengan ajaran Agama Islam, kita percaya bahwa manusia merupakan mahluk terakhir yang Allah ciptakan setelah diciptakan-Nya makhluk-mahluk lain. Manusia adalah makhluk yang ditunjuk Allah sebagai khalifah di dunia.

Pada saat manusia berada di alam ruuh (arwah) Allah mengambil sumpah atas mereka yang tersebut dalam surah Al A’raf ayat 172. Arti dari ayat tersebut, yaitu “dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas jiwa (arwah) mereka (seraya berfirman): Bukankan Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.

Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap hal ini (keesaan Tuhan).” Itulah kenapa manusia yang baru lahi ke dunia dalam keadaan masih fitrah (suci) karena semua ruh manusia mengakui dan bersaksi akan keesaan Allah SWT.

Seseorang yang meninggal dalam keadaan Islam pun berarti dia (arwahnya) telah kembali kepada fitrahnya. Bersyukurlah kalian yang masih memegang teguh agama Islam hingga akhir hayat nanti. Itu menandakan kalau kalian tetap setia dengan sumpah yang kalian ucapkan di alam arwah.

Doa Arwah

Orang yang sudah meninggal tetap boleh didoakan oleh keluarganya terutama oleh anak-anak yang shaleh dan shalihah. Berikut ini doa arwah yang bisa dibaca untuk mendoakan kerabat kita yang sudah tiada:

Lafadz Arab

للّٰهُمَّ اجْعَلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ مِنْ كَلاَمِكَ الْقَدِيْمِ وَمَاهَلَّلْنَاهُ مِنْ لاَاِلٰهَ اِلاَّاللّٰهُ وَمَاسَبَّحْنَاهُ مِنْ سُبْحَانَ اللّٰهِ وَبِحَمْدِهٖ وَمَاصَلَّيْنَاهُ عَلٰى نَبِيِّكَ الْكَرِيْمِ مُحَمّدٍصَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى هٰذَاالْمَكَانِ هَدِيَّةً مِنَّاوَاصِلَةً وَرَحْمَةً مِنْ مَوَاهِبِ فَضْلِكَ نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً اِلٰى حَضْرَةِ سَيِّدِنَاوَشَفِيْعِنَاوَحِبِيْبِنَاوَمَوْلَنَامُحَمَّدٍرَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ مَنِجْتَمَعْنَاهٰهُنَابِسَبَبِهِمْ خُصُوْصًااِلٰى اَرْوَاحِ(…….) اِجْعَلِ اللّٰهُمَّ ثَوَابَ ذٰلِكَ مِنَّااِلَيْهِمْ وَاجْعَلْهُ نُوْرًايَسْعٰى وَيَتَلَأْ لَأُبَيْنَ اَيْدِهِمْ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُ حِجَابًالَهُمْ مِنَ النَّارِوَعِثْقًالَهُمْ مِنَ النَّارِوَسِتْرًالَهُمْ مِنَ النَّارِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَثْوَاهُمْ. اَللّٰهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالنِّعْمَةَ وَالشَّفَاعَةَ عَلَيْنَاوَعَلَى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِمِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحِيَاءِمِنْهُمْ وَالْاَ مْوَاتِ

اِرْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَعِّفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْ عَنْهُمُ السَّيِّءَاتِ وَاَدْخِلْهُمُ الْجَنَّةَ مَعَ الْاٰ بَاءِوَالْاُ مَّهَاتِ

Bacaan Latin

“Allahummaj’al wa awshil tsawāba mā qara’nāhu minkalāmikal qadiimi wamā hallalnāhu min lā ilāhaillallāhu wamā sabbahnāhu min subhānallāhi wabihamdihii wamā shallaynāhu ‘alā nabiyyikal kariimi muhammadin shallallāhu ‘alaihi wasallama fiihādzal makāni hadiyyatan minnā wāshilatan warahmatan min mawāhibi fadhlika nāzilatan wabarakatan syāmilatan ilāhadhrati sayyidinā wasyafii’inā wahibiibinā wamawlanā muhammadin rasūlillāhi shalallāhu ‘alaihi wasallam.”

“Tsumma ilā arwāhi manijtama’nā hahunā bisababihim khushuushān ilā arwāhi (sebutkan nama) ij’allāhumma tsawāba dzālika minnā ilayhim wāj’aalhu nuurān yas’ā wa yatala’ la’bayna aydihim. Allāhummaj ‘alhu hijābānlahum min nāri wa ‘itsqānlahum minan nāri wa sitrān lahum minan nāri.”

“Allāhummagh firlahum warhamhum wa āfihim wa’fu ‘anhum waj’alil jannata mats wāhum. Allāhumma anzir rahmata wanni’mata wasy syafā’ata ‘alainā wa ‘alā jamii’i ahlil qubūri minal muslimiina wal muslimāti wal mu’miniina wal mu’minātil ahiyāi minhum wal amwāti.”

“irfa’ lahummud darajāti wa dha’-‘ifu lahumul hasanāti wakaffir ‘anhumus sayyiāti wa adkhilhum wal amwāti. Irfa’ lahumud darajāti wa dha’-‘if lahumul hasanāti wa kaffir ‘anhumus sayyiāti wa adkhilhumul jannata ma’al ābāi wal ummahāt.”

Hukum Memepercayai Keberadaan Arwah

Sering menjadi pertanyaan apakah saat sudah meninggal arwah seseorang masih berada disekitar kita hingga 40 hari bahkan 1000 hari? Sebelumnya akan kita bahas mengenai posisi arwah (ruuh) manusia yang telah meninggal.

Perlu kita ketahui kalau alam dibagi menjadi tiga, yaitu alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat. Alam dunia adalah tempat dimana kita hidup sekarang ini. Alam barzah adalah alam tempat arwah berada setelah manusia itu meninggal. Barzah juga merupakan alam transisi atau pembatas antara alam dunia dan alam akhirat.

Alam akhirat merupakan alam tempat arwah-arwah manusia akan hidup selamanya setelah dibangkitkan dari hari kiamat. Di alam akhirat itulah nantinya manusia benar-benar akan hidup dengan bahagia di surga atau sengsara dineraka sesuai dengan amal yang dia kerjakan di dunia.

Penjelasan singkat mengenai tiga alam tadi juga menjelaskan mengenai keberadaan arwah manusia tetap berada disekitar kita sampai hari-hari tertentu tidak lah benar. Kepercayaan orang Islam mengenai pandangan tersebut merupakan hasil asimilasi dari budaya Hindu.

Sebagai jasad yang arwahnya telah bersaksi untuk keesaan Allah tidak seharusnya kita percaya akan hal-hal seperti itu. Tidak percaya akan arwah yang masih bergentayangan disekitar kita selepas meninggal bukan berarti tidak boleh mendoakan mereka.

Doa arwah diatas bisa dibaca kapan saja, tidak harus pada waktu – waktu tertentu. Boleh dibacakan saat jenazah masih dirumah, saat jiarah kubur, atau sehabis shalat.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.