Doa Rabithah Dari Al Ma’tsurat Susunan Hasan Al Banna

Doa Rabithah- Rabithah secara bahasa memiliki arti bertali, berkaitan, atau berhubungan. Sedangkan menurut tarekatnya rabithah berarti menghubungkan ruhaniyah murid dengan ruhaniyah guru guna mendapatkan wasilah.

Hal itu dimaksudkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rabithah antara guru dengan muridnya biasanya berupa transfer pengetahuan atau ilmu maka transfer antara murid dengan mursyid adalah transfer spiritual.

Doa rabithah pertama kali disusun oleh ulama besar Hasan Al banna. Isi dari doa tersebut sangat indah yang tersusun dalam rangkaian wirid Al Ma’tsurat. Wirid al ma’tsurat sendiri sering dianggap doa yang ma’tsur, tapi doa tersebut merupakan karangan Hasan Al Banna.

Banyak yang menyangka bahwa doa ini merupakan doa yang berupa ayat Al Quran serta Hadits. Memang ada doa yang dikutip dari ayat-ayat Al Quran dan hadits, tapi secara keseluruhan doa ini dikarang dan disusun oleh sang ulama.

Doa Rabithah

Mungkin beberapa diantara kita masih asing dengan bacaan rabithah atau al ma’tsurat Hasan AL Banna. Inilah bacaan doa rabithah dari Hasan Al Banna yang perlu kita ketahui:

Lafadz Arab

اَللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْقُلُوْبَ , قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَي مَحَبَّتِكَ
وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ, وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ
وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ
فَوَثِّقِ اللَّهُمَّ رَابِطَتَهَا, وَأَدِمْ وُدَّهَا، وَاهْدِهَا سُبُلَهَا
وَامْلَأَهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُوْا
وَاشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ الْإِيْمَانِ بِكَ, وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ
وَاَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ، وَأَمِتْهَا عَلَى الشَّهَادَةِ فِيْ سَبِيْلِكَ
إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْر
اَللَّهُمَّ أَمِيْنَ

Bacaan Latin

“Allahumma innaka ta’lamu anna hadzihil qulub, qadijtama’at ‘alaa mahabbatik”

“wal taqat ‘alaa thaa’atik, wa tawahhadat ‘alaa da’watik”

“wa ta’aahadat ‘alaa nushrati syarii’atik”

“Fa watsiqillahumma rabithataha wa adim wuddaha”

“wahdiha subuulaha, wamla’ha binuurikal ladzii laa yakhbuu”

“wasyrah shuduurahaa bifaydhil iimaani bik, wajamiilit tawakkuli ‘alaik”

“wa ahyihaa bima’rifatik, wa amithaa ‘alaa syahaadati fii sabiilik”

“innaka ni’mal mawlaa wa ni’man nashiir”

“Allahumma amiin”

Terjemahannya

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah terhimpun atas kecintaan terhadap Mu.

Bertemu di atas ketaatan kepada Mu dan bersatu untuk memikul beban dakwah Mu.

Hati-hati ini telah mengikat kesetiaan untuk menolong meninggikan syariatMu.

Maka dari itu Ya Allah, Engkau perkukuh ikatannya dan Engkau kekalkan kemesraan hati-hati ini. Tunjukanlah hati-hati ini akan jalan yang sebenarnya.

Serta penuhkanlah hati-hati ini dengan cahaya ke-TuhananMu yang tidak kunjung redup (malap).

Lapangkanlah hati-hati ini dengan limpahan keimanan serta keindahan tawakkal kepadaMu. Hidup suburkanlah hati-hati ini dengan makrifat (pengenalan yang benar) tentang Mu.

Maka matikanlah kami (hati-hati) ini sebagai para syuhada dalam perjuangan agama Mu.

Sesungguhnya Engaku sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Ya Allah perkenankanlah doa kami.

Pandangan Islam Tentang Doa Rabithah

Berbicara mengenai doa-doa dalam Islam sudah kita ketahui fungsinya, yaitu berupa pengharapan kita kepada Allah. mungkin banyak yang bertanya-tanya mengenai diperbolehkan atau tidaknya membaca doa rabithah di dalam Islam.

Hukum membaca doa rabithah adalah boleh karena selama doa berisi kebaikan maka diperbolehkan. Akan lebih baik bila membaca doa diatas dibarenge dengan dzikir kalimat-kalimat, seperti tasbuh, tahmid, tahlil, dan takbir.

Tidak diperbolehkan untuk mengharuskan atau memakemkan bacaan al ma’tsurat sebagai dzikir wajib sesudah shalat. Hal itu tidak pernah dibenarkan didalam hadits manapun.

Jadilah bijak dalam beribadah dan pahami benar yang telah dianjurkan dalam al Quran dan Hadits. Perbaiki diri sendiri dnegan beribadah sesuai dengan acuan yang ada. Jangan menambah-nambahkan ibadah yang tidak ada dalil shahihnya karena itu termasuk perbuatan bid’ah.

Demikianlah penjelasan tentang doa rabithah atau wirid al ma’tsurat karya Hasan Al Banna. Semoga bisa memberikan manfaat bagi yang membacanya.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.